Jumat, 28 November 2014

Flash Fiction ( Seleksi Lomba Tahfiz)

4 Juli 2014 pukul 22:01

Oleh: Lina Herlina

Wuih..., belum apa-apa jantungku sudah dag dig dug. Bagaimana tidak, aku dipilih mewakili kelas IV untuk ikut lomba tahfiz Al-Qur’an. Gara-gara aku pindahan dari MI, aku lalu ditodong teman-teman untuk ikut. Seandainya mereka tahu aku belum pernah ikut lomba. Dan seandainya mereka tahu aku orang yang kurang percaya diri. Tapi apa boleh buat, ini kesempatanku untuk berani.Seperti kata Umi tempo hari. “Saatnya kamu membuktikan kalau kamu berani! Itu saja dulu.Menang atau kalah bukan masalah, yang penting kamu berusaha sebaik mungkin.”

Dibabak seleksi setiap perwakilan kelas harus membaca surat Al-A’la di depan lapangan. Lapangan! Kabar itu saja sudah membuatku ingin terus ke kamar mandi.




Setiap siswa yang akan lomba satu per satu dipanggil. Setelah beberapa temanku maju, akhirnya namaku dipanggil. Jantungku semakin cepat berdegup. Kulangkahkan kaki menuju lapangan. Ini jam istirahat,sehingga hampir semua siswa memandang padaku. Aiih..., itu cuma aku saja yang ke ge-eran, pikirku.

Bismillah...kuucapkan dalam hati. Kupegang mikrofon sedikit bergetar. Pasti  teman-temanku melihatnya. Kucoba menenangkan diri. Kutarik nafas dalam-dalam. Mulailah aku membacakan surat Al-A’la.

Syaamil Quran kudekap erat. Aku belum juga merasa tenang. Pengalaman pertama yang menegangkan. Aku tidak berani menatap siapapun, aku hanya mampu menunduk ,menunduk melihat kedua kakiku. Akhirnya kuputuskan untuk memejamkan mata. Dengan tangan kiri aku buka Al-Qurannya, dan kuangkat hingga menutup wajah.

Awalnya suaraku terdengar bergetar, namun  selanjutnya suaraku keluar dengan lantang. Kurasakan aku semakin tenang, tapi kali ini aku mendengar tawa yang semakin keras. Apa ada yang salah? Sejenak aku terdiam. Aku semakin tidak berani membuka mata. Kutarik nafas dalam-dalam, kulanjutkan ayat demi ayat, namun suara tawa tak henti-henti terdengar. Aneh, pikirku, masa AyatAl-Quran ditertawakan.

Aku tidak konsentrasi. Aku semakin heran setiap aku mengangkat Al-Quran, terdengartawa lagi. Namun aku berusaha tidak menghiraukannya, kulanjutkan membaca surat sampai selesai. Akhirnya mikrofon kukembalikan dengan tangan masih bergetar.

Tiba-tiba dari belakang Ahmad menepuk bahuku, “Anto, hebat ya kamu baca suratnya padahal Al-Quranmu terbalik,” ***


FF ini diikutsertakan dalam Lomba Cinta Al-Quran Paberland yang bekerjasama dengan Asyaamil

http://syaamilquran.com/lomba-menulis-cinta-al-quran.html

Tidak ada komentar: