Jumat, 26 Februari 2016

Belajar Menjadi Hafidz dan Hafidzah di Rumah


        Jadi pengen nulis ini, gara-gara Rofi, anak keduaku ngigaau “Aro aitalladzi yukadz dzibu biddiin, fadzaalikalladzii ya du ‘ul yatiim.. eh salah.”
Dari luar kamar aku senyum-senyum sendiri. Hehe...Ada-ada aja Rofi.
Tapi ada perasaan senang juga, bukannya berarti alam bawah sadarnya sedang penuh dengan ayat al quran? Mungkin ya.
Setiap orang tua muslim pastinya senang anaknya suka membaca apalagi menghafal al-quran. Merupakan cita-cita yang besar ingin menjadi seorang hafidz dan hafidzah. Karena ternyata itu tidaklah mudah. Perlu kemampuan keras dan istiqamah.
Beberapa kali, terpikir ingin menyekolahkan Rofi kesekolah IT karena ada program haflan Al-quran, tapi ternyata biaya untuk masuk ke sana tidaklah sedikit. Beruntung sekali anaknya suka menghafal. Hal ini terlihat ketika kakaknya di masukkan kesebuah sekolah tahfiz. Ada metode mudah menghafal disana. Ketika diperaktekan untuk Rofi yang waktu itu masih TK besar, ternyata dia tertarik, malahan sang kakak yang ada jadwal sekolah tahfiz kemampuannya bisa tersusul.
Itu cerita waktu masih di Bandung. Sekarang, setelah pindah tempat tinggal ke kampung, sulit mencari tempat kursus, atau pengajian yang menghususkan hafalan, sehingga aku mencari cara bagaimana supaya anak-anak teruama Rofi tetap bersemangat menghafal al-quran.

Mengajak temannya untuk sama-sama menghafal
Tetap saja, jika banyak teman menghafal, anak akan lebih semangat karena satu sama lain saling memotivasi. Makanya, aku mengajak anak-anak tetangga untuk samaa-sama menghafal al-quran di rumah. selama bulan ramadhan, hampir setip hari anak-anak berkumpul untuk menghafal al quran. Alhamdulillah anak-anak aku termotivasi untuk lebih banyak hafalannya dibanding teman-temannya. Dari sanalah teman-temannya tahu kalau kedua anakku katanya “Banyak hafalan al qurannya.” Nah, cerita ini sampai ke telinga bu guru di sekolah.
Ketika di sekolah ada  lomba PAI (Pendidikan Agama Islam) antar sekolah se kecamatan, Rofi  kls 1 dan kakaknya kls 4 menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba tahfiz. Hasilnya? Dua-duanya kalah. Hehe... tapi setidaknya mereka bangga bisa menjadi perwakilan sekolah. Kalau kata gurunya, “kalau kelas 1 baru ikut-ikutan aja, uji nyali hehe,” . Dan emaknya dapet ide cerita tentang lomba tahfiz, lalu dimuat di media anak hehe...
Tahun kemarin, Rofi ikutan lagi lomba tahfiz...tapi masih kalah, kata gurunya nilai Rofi, urutan ke 7. Ya Alhamdulillah, segitu juga hasil kerja kerasnya di rumah. Di sekolah sendiri, karena sekolah umum jadi hafalan suratnya sedikit, masih surat-surat pendek, sementara untuk lomba ini, anak dituntut minimal hafal juz 30. Walau tidak juara, dapat uang jajan 20 ribu rupiah. Senangnya bukan main.

Menghafal ditemani orang tuanya
Selesai ramadhan, entah kenapa anak-anak yang belajar hafalan menjadi menghilang. Bisa jadi karena aku sendiri mudik kelamaan, atau sering bebepergian hehe... yang jelas menghafal bersama anak-anak tetangga tidak jalan. Akhirnya diputuskan untuk menghafal di rumah bersama-sama, sekeluarga.
Papan tulis di rumah yang besar itu akhirnya digunakan lagi. Ditulislah ayat al-quran yang akan dihafal. Berharap setiap hari terlihat disana.
Selain itu setiap hari ada saatnya murotal didengarkan. Termasuk murotal dari suara aku sendiri hehe... lah ternyata pengalaman aku, biar anak cepet nambah hafalannya, aku sendiri yang harus sudah duluan hafal.
Misalnya saya ketika sedang masak, murojaah surat An-Naba, nah disana ada Rofi, aku tepuk tangannya “yuk lanjut ayatnya..” awalnya dia kaget, lama-lama setiap aku murojaah dia suka ikut meneruskan, atau menyimak kalau-kalau aku salah ayat. Haha...memang sering juga salah dan dibetulkan Rofi. Tapi kadang sengaja saya loncat ayatnya, membiarkan Rofi membetulkan. Kalau sudah begitu saya tahu kalau dia sudah hafal.
Kadang kalau aku dan Rofi sama-sama mandeg, langsung lihat al-quran untuk memperbaiki, atau melihat papan jika masih tertulis disana, kalau dua-duanya juga tidak, diwaktu magrib selepas solat berjama’ah baru dilihat.
Rajin muroja’ah membawa berkah. Suatu hari Rofi pulang membawa amplop. Katanya sih dari guru agama. Rofi berjingkrak mengibas-ngibaskan uang 15 ribu rupiah.
“Uang dari mana itu?”tanyaku.
“Hehe...kata bu guru, ini dari Pak Dadang, guru agama, ini untuk anak yang hafal surat al-insyirah, waktu kemarin kan cuma kakak aja yang hafal tanpa dikasih tahu, bunda”ungkap Rofi.
Aku mendekati Rofi dan memeluknya, Alhamdulillah semoga berkah Nak.

Muroja’ah di  Mesjid
Menemani Rofi menghafal al-quran tidak selamanya mulus-mulus saja, ada kalanya akunya yang males, atau Rofinya yang males hehe... namun setelah ada pengajian di mesjid, khusus hafalan al-quran, Rofi semangat lagi.
Tertantang ingin mengalahkan teman-temnnya di mesjid. Ada 8 orang yang ikut kegiatan itu. Kebanyakan mereka anak-anak kls 5-6 dan smp. Sementara Rofi sendiri baru kelas 3.
Suatu hari dia mengeluh tidak kebagian giliran untuk murojaah sendiri, atau dites sebelum pulang. “Mentang-mentang masih kelas kecil, tidak dianggap, padahalkan sudah hafal.” So aku kasih semangat buat menghafal di rumah, juga mengajaknya berlomba. “Kalau Rofi duluan hafal dibanding bunda, Rofi dapat kejutan.” Rofi mengangguk, “yuk ah semangat, biar nanti ketemu pak Ustadz langsung angkat tangan buat murojaah duluan.” Dan Rofi? Tersenyum senang.
Jadi di rumah, setiap melihat juz amma langsung di baca dan dihafal. Ada untungnya buku juz ama berserakan karena di acak-acak adiknya Rofi, kan ujung-ujungnya diambil Rofi dan dibaca, haha...
Itu hanyalah kisahku mengajak anak untuk mau membaca dan menghafal al-quran. Kesimpulan yang aku dapat, bahwa aku sendiri harus ikut menghafal, rajin-rajin murojaah didepan anak-anak, dan satu hal yang menyenangkan tebak-tebakan sambung ayat sebelum tidur.  Ada juga yang menarik, si kecil Rakey yang baru 3 tahun juga ikut-ikutan murojaah, doakan aku istiqamah ya...
Aku berharap tulisan ini bermanfaat dan menjadi tempat aku menambah ilmu juga dari pembaca semua. Yuk yang sudah baca, share dong pengalamnnya menemani anak menghafal al-quran.


8 komentar:

  1. ah roffi, salut sm semangat roffi mbk, sm dikau jg yg gk hanya semangat tp telaten jg, smoga hafalannya cpet bertambah ya roffi. amin. kalau aku baru ngenalin si ken huruf hijaiyah sih mbk, sm bacain surat2 pendek berulang2 kalau dia mau tidur. tengs sharingnya yak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe...alhamdulillah, terimakasih.
      Iya, bacain surat pendek berulang, nanti cepet belajarnya, kan sudah pernah dan terus terekam :)
      Salam buat Ken,semoga nanti jadi anak yang soleh y..

      Hapus
  2. pingin bisa menjadi ibu yang selalu mendamping anak-anaknya belajar surat2 Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga sedang terus belajar untuk itu... harus semangat biar anak ikut semangat hehe...

      Hapus
  3. alhamdulillah mba lina, memang idealnya begitu. Ibu menemani anak dan mengapal lebih dulu. sempat saya terapkan begitu ketika saya masih punya banyak waktu bersama anak. Semangat terus yaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mudah2an bisa istiqamah....
      Makasih mbak...

      Hapus